Mensos Jelaskan Skema Anggaran Makan Bergizi Gratis Lansia

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:56:16 WIB
Mensos Jelaskan Skema Anggaran Makan Bergizi Gratis Lansia

JAKARTA - Pemerintah mulai mematangkan skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus bagi lansia yang akan mulai berjalan pada 2026. 

Program ini dirancang lintas kementerian agar bantuan pangan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga diiringi dengan pendampingan bagi para penerima manfaat. Dalam skema tersebut, pendanaan dan pelaksanaan tugas dibagi antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Sosial (Kemensos).

Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf menegaskan bahwa anggaran makanan bergizi untuk lansia sepenuhnya berasal dari BGN. Sementara itu, Kemensos mengambil peran penting dalam penyediaan sumber daya manusia berupa petugas pengantar dan perawat atau caregiver yang akan mendampingi para lansia penerima bantuan.

“(Anggaran MBG Lansia dari) BGN. Jadi anggarannya nanti kita jadikan satu di BGN. Sementara kami menyiapkan yang mengantarkan, yang merawat,” kata Saifullah Yusuf.

Skema Anggaran Dibagi Antar Lembaga

Gus Ipul menjelaskan, pembagian peran tersebut dilakukan agar program MBG Lansia berjalan lebih efektif dan tidak tumpang tindih. BGN akan fokus pada penyediaan makanan bergizi, sementara Kemensos memperkuat layanan pendampingan sosial bagi para lansia.

Menurut dia, Kemensos telah melakukan koordinasi intensif dengan BGN untuk mematangkan perencanaan program ini. Salah satu fokus utama adalah memastikan sasaran penerima bantuan benar-benar tepat, terutama bagi lansia yang masuk kategori rentan.

“Semalam saya sudah berkoordinasi dengan Kepala BGN, Prof Dadan, untuk mematangkan rencana makan bergizi gratis untuk lansia yang usianya di atas 75 tahun dan tinggal sendirian. Kalau alokasinya sudah habis nanti baru di bawah 75 tahun,” ungkap Gus Ipul.

Program MBG Lansia ini diprioritaskan bagi lansia berusia di atas 75 tahun yang hidup sendiri tanpa pendamping keluarga. Pemerintah menilai kelompok ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi, baik dari sisi kesehatan maupun pemenuhan kebutuhan gizi sehari-hari.

Mekanisme Penyaluran Melalui Dapur SPPG

Dalam pelaksanaannya, dapur-dapur yang dikelola melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga akan dilibatkan untuk melayani lansia dan penyandang disabilitas. Dapur tersebut sebelumnya telah digunakan untuk mendukung program makan bergizi di berbagai wilayah.

“Nah kami sudah sepakat bahwa nanti akan dilayani dapur-dapur yang diselenggarakan oleh Pak Dadan. Jadi di SPPG yang ada di sekitar itu juga nanti melayani lansia dan penyandang disabilitas sesuai dengan data yang kami miliki atau data yang kami serahkan,” tuturnya.

Gus Ipul menambahkan, penerima manfaat tidak hanya terbatas pada lansia, tetapi juga penyandang disabilitas yang terdaftar dalam data Kemensos. Dengan demikian, program ini diharapkan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan intervensi negara.

Ia menyebutkan, data calon penerima MBG Lansia akan diperoleh dari kepala daerah. Setelah itu, Kemensos akan melakukan asesmen untuk memastikan kelayakan sebelum data diserahkan secara resmi kepada BGN.

“Kami mendapatkan data-data itu nanti dari Kepala Daerah. Jadi setelah kita lakukan asesmen, ya lalu kita akan serahkan ke Kepala Daerah untuk ditandatangani, baru kemudian kita serahkan ke BGN untuk dilayani,” kata Gus Ipul.

Peran Kemensos Dalam Penguatan Caregiver

Selain memastikan penyaluran makanan, Kemensos juga menaruh perhatian besar pada kesiapan tenaga pendamping bagi lansia. Gus Ipul menekankan pentingnya keberadaan caregiver yang terlatih agar bantuan yang diberikan tidak sekadar bersifat material, tetapi juga menyentuh aspek perawatan.

“Kita akan memperkuat dengan perawat-perawat yang terlatih secara bertahap. Kita awali dengan pelatihan-pelatihan dulu tapi sebelum mereka misalnya belum selesai mengikuti pelatihan, ya kita akan menggunakan tenaga-tenaga yang mengirim ke rumah-rumah lansia dan penyandang disabilitas,” jelasnya.

Menurut dia, penguatan caregiver akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan kesiapan sumber daya. Dalam tahap awal, Kemensos akan memanfaatkan tenaga yang sudah ada sambil terus meningkatkan kapasitas melalui pelatihan.

Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan bahwa lansia dan penyandang disabilitas tidak hanya menerima makanan, tetapi juga mendapatkan perhatian dan pendampingan yang layak dalam kehidupan sehari-hari.

Program MBG Lansia Mulai Dijalankan Tahun Depan

Sebelumnya, Gus Ipul telah menyampaikan bahwa program MBG Lansia akan mulai dilaksanakan pada 2026. Pada tahap awal, program ini ditargetkan menyasar 100.000 lansia telantar berusia di atas 75 tahun serta penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan.

“Menyasar 100.000 lansia, lansia telantar maksudnya ya lansia dengan usia di atas 75 tahun. Yang kedua penyandang disabilitas yang memang membutuhkan bantuan,” kata Gus Ipul.

Ia menjelaskan, para penerima manfaat akan mendapatkan makanan dua kali sehari, yakni untuk makan pagi dan siang. Proses pengantaran akan dilakukan setiap hari tanpa mengenal hari libur.

“Nanti diantar sehari sekali di pagi hari tanpa mengenal hari libur, Sabtu atau Minggu. Jadi prioritasnya jelas ya lansia, usia di atas 75 tahun dan tinggal sendirian,” ucap dia.

Melalui program ini, pemerintah berharap kualitas hidup lansia telantar dan penyandang disabilitas dapat meningkat, sekaligus memastikan negara hadir dalam memenuhi kebutuhan dasar kelompok masyarakat rentan.

Terkini