JAKARTA - Media sosial kembali melahirkan tren diet baru yang langsung menyita perhatian publik. Kali ini, bahan sederhana seperti oat mendadak menjadi sorotan setelah diklaim mampu menurunkan berat badan secara signifikan.
Di berbagai platform, terutama TikTok, metode diet ini ramai diperbincangkan karena disebut-sebut memberikan hasil setara dengan Ozempic, obat medis yang selama ini dikenal efektif menekan nafsu makan.
Dari klaim itulah muncul istilah Oatzempic, gabungan kata oat dan Ozempic. Banyak pengguna media sosial membagikan pengalaman pribadi mereka setelah rutin mengonsumsi campuran oat dengan air atau susu, ditambah perasan jeruk lemon, bahkan kadang dilengkapi madu atau kayu manis. Tak sedikit yang mengaku berat badannya turun drastis hanya dalam waktu singkat.
Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan besar: apakah Oatzempic benar-benar bekerja seperti Ozempic, atau sekadar tren diet yang dibungkus narasi menarik di media sosial?
Untuk menjawabnya, penting melihat perbedaan mendasar antara keduanya serta bagaimana pandangan sains dan ahli gizi terhadap klaim tersebut.
Fenomena Oatzempic di Media Sosial
Popularitas Oatzempic tak lepas dari maraknya konten transformasi tubuh di media sosial. Banyak orang membagikan video sebelum dan sesudah mengonsumsi minuman berbasis oat ini, lengkap dengan klaim penurunan berat badan hingga belasan kilogram. Narasi yang dibangun pun kerap menggoda, karena bahan yang digunakan tergolong murah dan mudah didapat.
Pada dasarnya, Oatzempic adalah campuran oat dengan air atau susu. Beberapa orang menambahkan perasan jeruk lemon, madu, atau kayu manis untuk memperkaya rasa.
Minuman ini biasanya dikonsumsi sebagai menu sarapan, dengan harapan dapat menahan rasa lapar lebih lama dan mengurangi asupan makan sepanjang hari.
Tren ini berkembang cepat karena dianggap sebagai alternatif alami dari obat medis. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pola hidup sehat, Oatzempic diposisikan sebagai solusi praktis bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan tanpa prosedur medis atau pengawasan dokter. Meski terdengar menarik, klaim tersebut perlu ditelaah lebih dalam.
Perbedaan Oatzempic dan Ozempic
Perbedaan antara Ozempic dan Oatzempic sebenarnya cukup jelas. Ozempic, atau semaglutide, merupakan obat golongan GLP-1 yang diberikan melalui suntikan dan telah melalui uji klinis.
Obat ini bekerja dengan memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar serta kadar gula darah, dan digunakan dalam pengobatan diabetes tipe dua.
Sementara itu, Oatzempic pada dasarnya hanyalah campuran oat dengan air atau susu. Minuman ini tidak memengaruhi hormon maupun sistem metabolisme tubuh seperti Ozempic. Tidak ada zat aktif dalam oat yang bekerja menyerupai mekanisme obat medis tersebut.
Lalu, bagaimana dengan klaim penurunan berat badan yang ramai dibagikan di media sosial? Banyak ahli menilai bahwa efek yang dirasakan lebih berkaitan dengan pola makan, bukan karena Oatzempic memiliki kemampuan khusus layaknya obat. Saat seseorang mengganti sarapan tinggi kalori dengan oat yang kaya serat, asupan kalori harian otomatis berkurang.
"Segala hal tentang oat sangat sehat dan sangat baik untuk tubuh," kata Kathleen Zelman, MPH, RDN, seorang ahli gizi, seperti dilansir WebMD.
Peran Serat dalam Penurunan Berat Badan
Oat dikenal kaya serat, terutama beta-glukan, yang membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Efek kenyang inilah yang membuat banyak orang merasa tidak cepat lapar setelah mengonsumsi oat di pagi hari. Dengan rasa lapar yang lebih terkendali, porsi makan pada waktu berikutnya pun cenderung berkurang.
Meski demikian, manfaat tersebut sebenarnya tidak eksklusif pada oat. Makanan tinggi serat lainnya dengan kalori rendah juga dapat memberikan efek serupa. Artinya, penurunan berat badan yang terjadi bukan karena oat bekerja seperti obat medis, melainkan karena total asupan kalori yang lebih sedikit.
Para ahli juga menegaskan bahwa penambahan jeruk lemon ke dalam oat tidak memberikan manfaat khusus untuk menurunkan berat badan. Meski begitu, oat dan jeruk lemon tetap tergolong makanan sehat jika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Hingga kini, belum ada studi klinis khusus yang meneliti efektivitas minuman Oatzempic sebagai metode penurunan berat badan. Yang sudah terbukti secara ilmiah, oat membantu meningkatkan rasa kenyang, mendukung pengendalian gula darah, serta menjaga kadar kolesterol.
Pandangan Ahli Gizi
Ahli gizi mengingatkan agar Oatzempic tidak diposisikan sebagai obat penurun berat badan dengan hasil instan. Mengandalkan minuman ini sebagai sarapan utama secara terus-menerus berisiko membuat tubuh kekurangan protein dan nutrisi penting lainnya.
Konsumsi oat memang dapat mendukung program penurunan berat badan, tetapi harus diimbangi dengan asupan gizi seimbang dan aktivitas fisik yang rutin. Tanpa perubahan gaya hidup secara keseluruhan, efek penurunan berat badan tidak akan bertahan lama.
Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa Oatzempic mampu menurunkan berat badan tanpa perubahan pola makan dan kebiasaan hidup. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergoda oleh tren atau klaim berlebihan di media sosial.
Jika ingin menurunkan berat badan secara sehat dan berkelanjutan, kuncinya tetap sama: menjaga pola makan bergizi seimbang, aktif bergerak, dan istirahat yang cukup. Bila tertarik mencoba metode diet tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi agar tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.