Termasuk Gula Dan Stres, Faktor Penyebab Kulit Cepat Menua

Jumat, 13 Februari 2026 | 08:56:45 WIB
Termasuk Gula Dan Stres, Faktor Penyebab Kulit Cepat Menua

JAKARTA - Banyak orang baru menyadari perubahan pada kulitnya ketika garis halus mulai terlihat jelas di cermin. Padahal, proses tersebut sebenarnya telah berlangsung lama di balik layar. 

Penuaan kulit bukan sekadar soal bertambahnya usia atau terlalu sering terpapar matahari. Ada sejumlah faktor lain yang bekerja secara perlahan, konsisten, dan sering kali tidak disadari hingga dampaknya terasa nyata.

Selama ini, paparan sinar ultraviolet kerap menjadi kambing hitam utama. Namun para ahli menegaskan, ada proses biologis dan kebiasaan sehari-hari yang sama kuatnya dalam mempercepat tanda-tanda penuaan. Faktor internal seperti genetika hingga pilihan gaya hidup seperti pola makan dan merokok ikut membentuk kondisi kulit dalam jangka panjang.

Berikut penjelasan para ahli mengenai hal-hal yang membuat kulit menua lebih cepat.

Peran Genetika Dalam Penuaan Kulit

Penuaan kulit memang tidak bisa dilepaskan dari faktor alami. Namun menurut Dr. Mona Gohara, profesor klinis madya dermatologi di Yale School of Medicine, meskipun paparan sinar matahari adalah kontributor eksternal yang besar, penyebab utama penuaan kulit yang sebenarnya adalah proses biologis intrinsik yang terjadi di dalam sel kita sendiri, terlepas dari seberapa sering kita berada di bawah sinar matahari.

Ia menjelaskan bahwa setelah paparan sinar matahari, penuaan sebagian besar merupakan proses internal yang dikenal sebagai penuaan intrinsik, yang dipengaruhi oleh gen. Seiring waktu, sel-sel kulit membelah kurang efisien, produksi kolagen menurun, dan sistem perbaikan alami kulit menjadi lebih lambat.

"Setelah paparan sinar matahari, penuaan sebagian besar merupakan proses internal yang kita sebut penuaan intrinsik, yang dipengaruhi oleh gen Anda," kata Dr. Mona Gohara seperti dikutip Real Simple.

Ia menambahkan, "Ini tidak dramatis atau mencolok, tetapi terus-menerus terjadi. Penuaan berlangsung secara diam-diam sesuai dengan cetak biru genetik yang Anda miliki sejak lahir," paparnya.

Artinya, meski seseorang sudah disiplin menggunakan tabir surya, faktor genetik tetap memainkan peran besar dalam menentukan bagaimana kulit akan berubah seiring waktu.

Stres Diam-Diam Menguras Kesehatan Kulit

Selain genetika, stres menjadi faktor yang sering diremehkan. Padahal dampaknya terhadap kulit tidak kalah signifikan. Ketika diminta memilih satu faktor utama penuaan selain sinar matahari, Gohara menyebut stres dan genetika pada dasarnya saling berkaitan.

"Stres mempercepat penuaan kulit seperti aplikasi latar belakang yang menguras baterai ponsel Anda," jelasnya.

Dalam kondisi stres kronis, hormon kortisol meningkat dan memicu peradangan. Kondisi ini mengganggu kualitas tidur serta secara bertahap memecah kolagen yang menjaga elastisitas kulit.

"Tidak ada yang rusak sekaligus, tetapi suatu hari Anda melihat ke cermin dan menyadari kulit Anda tiba-tiba beroperasi dalam mode hemat daya," katanya.

Meski stres sulit dihindari sepenuhnya, Gohara menyarankan untuk fokus pada langkah-langkah kecil yang dapat membantu meredakannya. Bernapas dalam-dalam, berjalan singkat di luar ruangan, melakukan peregangan, bernyanyi di dalam mobil, hingga menari selama dua lagu bisa menjadi cara sederhana untuk membantu tubuh dan kulit tetap lebih seimbang.

Gula Dan Pola Makan Yang Memicu Kerusakan Kolagen

Pola makan juga berperan besar dalam menentukan kualitas kulit. Dokter kulit bersertifikat di Departemen Dermatologi Rumah Sakit Mount Sinai Hospital, Joshua Zeichner, menjelaskan bahwa penuaan kulit sering kali berkaitan dengan kadar gula darah.

"Kadar gula darah tinggi yang berkelanjutan menyebabkan proses yang disebut glikasi. Molekul gula menempel pada kolagen, membuatnya kaku sehingga alih-alih melentur, kolagen retak, yang menyebabkan garis-garis, kerutan, dan kulit kendur," jelasnya.

Proses glikasi membuat kolagen kehilangan fleksibilitasnya. Akibatnya, kulit menjadi lebih mudah menunjukkan garis halus dan kehilangan kekenyalan alaminya. Selain itu, kadar gula tinggi juga dikaitkan dengan munculnya jerawat.

Karena itu, dianjurkan untuk menjaga pola makan seimbang dengan membatasi konsumsi makanan manis, bertepung, serta makanan olahan tinggi. Mengurangi asupan gula bukan hanya membantu menjaga berat badan, tetapi juga berkontribusi pada kulit yang lebih sehat dan tampak lebih muda.

Merokok Dan Dampaknya Pada Elastisitas Kulit

Kebiasaan merokok juga termasuk faktor besar yang mempercepat penuaan. Gina Maccarone, MD, ahli bedah kosmetik bersertifikasi tiga bidang, menegaskan bahwa merokok dalam bentuk apa pun memiliki dampak serius terhadap kesehatan kulit.

"Merokok dalam bentuk apa pun adalah faktor penuaan kulit terbesar selain paparan sinar matahari," kata Gina Maccarone, MD.

Nikotin menyempitkan pembuluh darah sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke kulit berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini memperlambat proses penyembuhan serta mempercepat kerusakan kolagen. Dampaknya terlihat dalam bentuk kerutan dini dan perubahan tekstur kulit.

Jika berhenti merokok terasa berat, langkah kecil bisa menjadi awal perubahan. Mengganti waktu istirahat merokok dengan berjalan kaki lima menit atau mengunyah permen karet rasa mint dapat membantu proses transisi. Seiring waktu, kulit dan paru-paru akan merasakan manfaatnya.

Penuaan kulit memang tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Namun memahami faktor-faktor yang mempercepatnya memberi kesempatan untuk memperlambat dampaknya. Dengan menjaga pola makan, mengelola stres, menghindari rokok, serta menyadari peran genetika, setiap orang dapat mengambil langkah lebih bijak dalam merawat kesehatan kulitnya.

Terkini