Tobatenun Itang Yunasz Hadirkan Tenun Batak Raya Mewah

Jumat, 13 Februari 2026 | 09:58:43 WIB
Tobatenun Itang Yunasz Hadirkan Tenun Batak Raya Mewah

JAKARTA - Industri modest wear Indonesia kembali menunjukkan daya jelajah kreatifnya lewat pertemuan tradisi dan modernitas. 

Kali ini, sorotan tertuju pada langkah Tobatenun yang menggandeng desainer pionir, Itang Yunasz, untuk merumuskan ulang makna kemewahan dalam busana hari raya. 

Alih-alih sekadar menghadirkan koleksi musiman, kolaborasi ini menjadikan Tenun Batak sebagai pusat narasi, menegaskan bahwa wastra Nusantara mampu berdiri sejajar dalam lanskap modest wear kontemporer yang elegan dan berkelas.

Perhelatan tersebut memperkenalkan koleksi kolaboratif yang menjembatani kemegahan Tenun Batak dengan modest wear. Gelaran ini menjadi panggung bagi Abit Godang, wastra historis dari Tapanuli Selatan yang membawa pesan akulturasi dan kehangatan silaturahmi. 

Dalam balutan desain yang diperbarui, nilai tradisi tetap menjadi fondasi, sementara pendekatan modern memberi ruang bagi interpretasi yang lebih luas terhadap busana Muslim masa kini.

Koleksi ini menjadi istimewa karena melibatkan kurasi desainer lintas generasi. Itang Yunasz menerjemahkan kekuatan Tenun Batak ke dalam deretan busana muslim mewah.

 Eksplorasinya mencakup penggunaan Tenun ATBM yang terinspirasi dari motif Ragi Hotang hingga sentuhan Sadum dalam rona biru yang menenangkan. Setiap potongan memperlihatkan kepiawaian dalam mengolah tekstur dan motif, tanpa menghilangkan karakter asli kainnya.

Kolaborasi Lintas Generasi Dalam Satu Panggung

Pendekatan kolaboratif menjadi benang merah yang memperkaya koleksi ini. Di satu sisi, pengalaman panjang Itang Yunasz sebagai pionir modest wear memberi struktur kuat pada siluet dan detail. Di sisi lain, semangat generasi baru menghadirkan sudut pandang yang lebih eksperimental namun tetap menghormati akar budaya.

Pendekatan eksperimental hadir melalui label fbudi oleh Felicia Budi. Dengan garis desain demi-couture yang kuat, ia membawa filosofi mendalam tentang keterhubungan antar-generasi. 

Felicia Budi mengisahkan keterhubungan jiwa antar generasi, kehangatan interaksi koleksi kolaborasi dengan Tobatenun ini menangkap nilai marsiadapari, bekerja dan berjalan bersama kala “Merayakan Ritual Kebersamaan dan Keterhubungan” dalam kehidupan.

Melalui tafsir yang reflektif, koleksi ini tidak hanya berbicara tentang busana, tetapi juga tentang relasi sosial yang terjalin dalam proses kreatifnya. Marsiadapari sebagai konsep gotong royong menjadi landasan yang menyatukan perajin, desainer, hingga pemakai dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Eksplorasi Estetika Feminin Dan Maskulin

Nuansa feminin yang tangguh ditampilkan oleh Glashka lewat koleksi “Senandung Rona,” yang memadukan detail bordir tangan khas Tasikmalaya dengan tenun Sumatera Utara. Perpaduan dua tradisi berbeda ini menciptakan dialog visual yang unik, mempertemukan kelembutan detail dengan kekuatan motif etnik.

Sementara itu, Shawl & Co menawarkan opsi busana harian yang subtil namun berkarakter. Pendekatan ini menegaskan bahwa Tenun Batak tidak hanya relevan untuk momen formal, tetapi juga adaptif dalam gaya keseharian yang sederhana namun tetap memiliki identitas kuat.

Label AMOTSYAMSURIMUDA membawa energi vibran bagi pria melalui koleksi tema “MULAK” (Pulang). Konsep pulang dimaknai sebagai perjalanan kembali ke akar, sebuah refleksi identitas yang diterjemahkan dalam rancangan maskulin yang dinamis. 

Warna, potongan, dan pemilihan material menegaskan bahwa wastra tradisional dapat tampil modern tanpa kehilangan makna simboliknya.

Abit Godang Sebagai Simbol Identitas Batak Muslim

Fokus utama perhelatan ini tertuju pada Abit Godang atau Abit Sadum Angkola. Wastra ini mencerminkan identitas masyarakat Batak Muslim melalui teknik marsimata (penyisipan manik) dan filosofi seni Arabesque yang geometris. 

Karakter visualnya memperlihatkan perpaduan budaya yang harmonis, menegaskan jejak sejarah interaksi lintas tradisi di kawasan tersebut.

Kehadiran Abit Godang di panggung Raya seolah menegaskan bahwa wastra Nusantara memiliki fleksibilitas tinggi untuk tampil relevan dalam konteks busana hari raya yang modern namun tetap santun. Siluet modest wear memberi ruang bagi motif dan teknik tradisional untuk bersinar, tanpa terkesan berlebihan.

Transformasi ini sekaligus memperluas pemahaman publik bahwa kain tradisional bukan sekadar artefak budaya, melainkan medium ekspresi yang hidup. Dalam tangan para desainer, Abit Godang bertransformasi menjadi busana raya yang mewah, namun tetap mengakar pada identitas aslinya.

Ekosistem Berkelanjutan Dalam Industri Wastra

Melalui kemitraan dengan Jabu Bonang dan Jabu Borna, Tobatenun memastikan setiap helai kain yang tampil di atas runway lahir dari ekosistem yang adil dan berkelanjutan, menggunakan pewarnaan alami yang ramah lingkungan namun tetap memenuhi standar internasional. Komitmen ini memperlihatkan bahwa inovasi tidak harus mengorbankan prinsip keberlanjutan.

Kolaborasi ini juga menegaskan pentingnya rantai produksi yang bertanggung jawab, mulai dari perajin hingga panggung peragaan. Dengan pendekatan tersebut, nilai etis berjalan seiring dengan nilai estetis, menghadirkan koleksi yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bermakna secara sosial dan lingkungan.

Melalui langkah ini, Tobatenun membuktikan bahwa transformasi Tenun Batak ke dalam modest wear mewah bukan sekadar strategi tren, melainkan upaya merawat tradisi melalui inovasi. 

Perpaduan lintas generasi, eksplorasi desain, penguatan identitas, hingga komitmen keberlanjutan menjadikan koleksi ini sebagai refleksi utuh tentang bagaimana warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang dalam arus mode modern.

Terkini