Konsumsi Pertamax Jateng DIY Diprediksi Naik Saat Mudik Lebaran

Jumat, 13 Maret 2026 | 11:01:17 WIB
Konsumsi Pertamax Jateng DIY Diprediksi Naik Saat Mudik Lebaran

JAKARTA - Meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim mudik selalu berdampak langsung pada kebutuhan energi, terutama bahan bakar kendaraan dan gas rumah tangga. 

Fenomena ini juga diperkirakan terjadi di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada periode Ramadan hingga Idulfitri tahun ini. Lonjakan perjalanan masyarakat menuju kampung halaman serta aktivitas wisata keluarga diprediksi memicu peningkatan konsumsi bahan bakar dalam jumlah signifikan.

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menyiapkan berbagai strategi untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi selama masa libur panjang Lebaran. 

Perusahaan energi tersebut memperkirakan konsumsi sejumlah jenis bahan bakar akan meningkat seiring tingginya mobilitas kendaraan pribadi serta aktivitas ekonomi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.

Kondisi tersebut membuat kesiapan distribusi energi menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran perjalanan masyarakat. Infrastruktur distribusi bahan bakar, layanan tambahan di jalur mudik, hingga manajemen stok energi disiapkan guna mengantisipasi lonjakan permintaan yang diperkirakan terjadi sepanjang masa libur Lebaran.

Durasi libur yang cukup panjang tahun ini juga memengaruhi pola perjalanan pemudik. Perjalanan diperkirakan tidak hanya terjadi pada satu waktu puncak, tetapi terbagi ke dalam beberapa gelombang perjalanan. Kondisi tersebut menuntut kesiapan distribusi energi yang lebih fleksibel dan adaptif di lapangan.

Lonjakan Konsumsi BBM Saat Mudik

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah memprediksi konsumsi bahan bakar minyak di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengalami peningkatan selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026. Lonjakan ini terutama dipicu oleh meningkatnya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan mudik maupun aktivitas wisata keluarga.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional JBT, Fanda Chrismianto, menjelaskan bahwa pola perjalanan masyarakat tahun ini diperkirakan terbagi menjadi dua gelombang besar. Kondisi tersebut memerlukan strategi distribusi yang lebih dinamis untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga.

"Demikian juga untuk sektor transportasi darat, Pertalite diperkirakan naik 30%, Pertamax 29,7%, Turbo naik 55,3%, sehingga total untuk gasoline kenaikan kurang lebih 30% atau 16.800-an kiloliter," jelasnya.

Selain produk gasoline, tren peningkatan konsumsi juga terjadi pada bahan bakar nonsubsidi lainnya. Dexlite diperkirakan mengalami kenaikan konsumsi hingga 70,5 persen, sementara Pertamina Dex diproyeksikan meningkat sebesar 64,2 persen.

Peningkatan tersebut menunjukkan tingginya aktivitas transportasi masyarakat selama periode libur panjang, terutama penggunaan kendaraan pribadi untuk perjalanan jarak jauh.

Perubahan Pola Konsumsi Energi

Di tengah kenaikan konsumsi sejumlah jenis bahan bakar, terdapat pula perubahan pola penggunaan energi selama masa mudik Lebaran. Salah satu yang diperkirakan mengalami penurunan adalah konsumsi Solar.

Permintaan Solar diproyeksikan turun sekitar 13 persen selama periode tersebut. Penurunan ini berkaitan dengan kebijakan pembatasan operasional kendaraan logistik, khususnya truk dengan tiga sumbu atau lebih, selama masa arus mudik dan arus balik.

Sementara itu, kebutuhan energi rumah tangga juga diperkirakan mengalami peningkatan selama bulan Ramadan. Permintaan LPG atau yang dikenal sebagai gas melon diproyeksikan meningkat sekitar 9 persen dibandingkan kondisi normal.

Konsumsi LPG yang biasanya berada di kisaran 4.854 metrik ton diperkirakan meningkat menjadi sekitar 5.293 metrik ton selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Peningkatan ini sejalan dengan aktivitas rumah tangga yang lebih intens selama bulan puasa, termasuk kegiatan memasak untuk sahur dan berbuka yang biasanya meningkat dibandingkan hari biasa.

Strategi Distribusi Dan Pengamanan Pasokan

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan energi, Pertamina menyiapkan berbagai langkah distribusi tambahan di sejumlah wilayah strategis. Beberapa daerah yang menjadi fokus penguatan distribusi antara lain Solo Raya, Daerah Istimewa Yogyakarta, Tegal, Semarang, hingga Kudus.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah skema extra dropping dan penyaluran fakultatif guna memastikan pasokan energi tetap tersedia selama masa libur.

"Fakultatif adalah alokasi yang kita tambah di periode tanggal merah, di mana di tanggal merah sebenarnya tidak ada penyaluran normalnya, fakultatif tidak cukup juga tambah extra dropping berarti penyaluran lebih dari satu hari kebutuhan normal," tutur Fanda.

Selain penguatan distribusi, Pertamina juga menyiagakan berbagai layanan tambahan untuk mendukung kebutuhan masyarakat selama perjalanan mudik. Layanan tersebut meliputi SPBU modular, kios kemasan Pertamina Dex, serta layanan motorist yang siap mengantar bahan bakar bagi konsumen yang mengalami kendala di perjalanan.

Fasilitas Serambi MyPertamina juga disediakan sebagai tempat istirahat yang nyaman bagi masyarakat yang melakukan perjalanan jarak jauh. Fasilitas ini dirancang ramah keluarga dengan berbagai layanan pendukung bagi pemudik.

"Intinya kami ingin menyertai masyarakat yang mudik ini dalam perjalanan menuju keluarga masing-masing di tujuan," jelasnya.

Ketahanan Stok Energi Di Wilayah JBT

Selain memperkuat distribusi, Pertamina juga memastikan ketersediaan stok energi di wilayah Jawa Bagian Tengah tetap berada dalam kondisi aman selama periode Lebaran.

Manager Supply & Distribution Pertamina Patra Niaga JBT, Priyo Djatmiko, menyampaikan bahwa ketahanan stok gasoline saat ini berada pada level yang cukup tinggi.

Ia menjelaskan bahwa stok bahan bakar jenis gasoline tercatat mencapai sembilan kali lipat dari konsumsi harian normal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasokan bahan bakar di wilayah Jawa Tengah dan DIY berada dalam kondisi aman.

Sementara itu, ketahanan stok LPG dikelola dengan sistem pengisian tangki penyimpanan yang berlangsung secara berkala melalui suplai kapal tangker. Sistem tersebut dirancang agar pasokan gas tetap terjaga meskipun tingkat konsumsi meningkat.

Metode pengisian ini diibaratkan seperti sirkulasi air di dalam bak mandi. Keran suplai akan terus dibuka sebelum kapasitas penyimpanan menyentuh batas minimum.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan LPG tetap stabil sekaligus mencegah potensi panic buying yang sempat muncul di beberapa daerah akibat kekhawatiran kelangkaan yang sebenarnya tidak berdasar.

Terkini