Bank

Strategi Bank Jaga Kecukupan Modal Hadapi Tantangan 2026

Strategi Bank Jaga Kecukupan Modal Hadapi Tantangan 2026
Strategi Bank Jaga Kecukupan Modal Hadapi Tantangan 2026

JAKARTA - Ketahanan permodalan kembali menjadi sorotan utama industri perbankan menjelang 2026. Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang terus berubah, bank-bank di Indonesia memilih mengambil langkah antisipatif dengan menata strategi modal sejak dini. 

Modal yang kuat dipandang bukan sekadar bantalan risiko, tetapi juga fondasi penting untuk menjaga ekspansi usaha tetap sehat dan berkelanjutan. 

Data terbaru menunjukkan bahwa secara umum industri perbankan berada dalam posisi yang cukup nyaman, meski masing-masing bank memiliki pendekatan berbeda dalam memanfaatkan kecukupan modalnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) industri perbankan berada di level 26,05% per November 2025. 

Angka tersebut mencerminkan kemampuan perbankan nasional dalam menyerap potensi risiko, sekaligus memberi ruang untuk mendukung pertumbuhan kredit dan pengembangan bisnis pada tahun berjalan. Dengan kondisi tersebut, tahun 2026 dipandang sebagai fase konsolidasi sekaligus ekspansi yang menuntut kehati-hatian.

Modal Kuat Jadi Pondasi Hadapi Tantangan

Sepanjang akhir 2025, sejumlah bank besar mencatatkan posisi CAR yang solid. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. misalnya, memiliki CAR sebesar 20,7% per Desember 2025. 

Meski turun dari posisi 21,4% pada akhir 2024, angka tersebut masih jauh di atas ketentuan minimum regulator. Kondisi ini menandakan bahwa ruang permodalan bank tetap terjaga dengan baik.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menegaskan bahwa modal yang kuat tersebut akan dimanfaatkan secara optimal sepanjang tahun ini. 

“Kecukupan modal saat ini memberi ruang bagi BNI mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko,” ujar Paolo.

Pernyataan ini mencerminkan fokus BNI dalam menyeimbangkan pertumbuhan dengan kehati-hatian, terutama di tengah potensi ketidakpastian ekonomi.

Modal yang memadai juga memberi fleksibilitas bagi bank untuk merespons perubahan kondisi pasar. Dengan CAR yang sehat, bank memiliki kemampuan lebih besar untuk menyerap tekanan sekaligus tetap menjalankan fungsi intermediasi secara efektif.

Strategi Bank Besar Menjaga Keseimbangan

Pendekatan serupa juga diambil oleh PT Bank Central Asia Tbk. Hingga akhir 2025, CAR BCA tercatat di posisi 29,8%, naik tipis dari 29,4% pada tahun sebelumnya. 

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyampaikan bahwa kecukupan modal tersebut akan dimanfaatkan untuk mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin muncul di masa depan.

Selain sebagai bantalan risiko, modal tebal juga dimanfaatkan untuk menopang aktivitas usaha dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan. 

Meski tidak merinci secara spesifik rencana pengembangan tersebut, Hera menegaskan bahwa bank terus mencermati perkembangan pasar dan regulasi. Langkah ini dilakukan agar posisi permodalan tetap terjaga pada level yang memadai.

Dengan modal yang kuat, BCA berupaya menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat. “Sembari tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko,” kata Hera. 

Strategi ini menunjukkan bahwa perbankan besar memilih jalur pertumbuhan yang terukur, tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang.

Pendekatan Prudent Bank Dengan CAR Lebih Rendah

Berbeda dengan bank besar, posisi CAR KB Bank terpantau lebih rendah, yakni di kisaran 15% per Desember 2025, turun dari 16% pada tahun sebelumnya. 

Meski demikian, angka tersebut masih berada di atas ketentuan regulator. Direktur Utama KB Bank Kunardy Lie menjelaskan bahwa penurunan CAR dipengaruhi oleh peningkatan aset tertimbang menurut risiko (ATMR) seiring pertumbuhan kredit pada akhir tahun lalu.

“Meskipun pertumbuhan modal belum sepenuhnya mengimbangi kenaikan ATMR, posisi permodalan bank tetap dikelola secara prudent untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan,” tegas Kunardy. 

Pernyataan ini menegaskan komitmen bank untuk tetap berhati-hati dalam mengelola permodalan di tengah ekspansi bisnis.

Dengan CAR yang masih memadai, KB Bank memastikan pertumbuhan bisnis dijalankan secara selektif. Penguatan struktur permodalan dilakukan melalui berbagai inisiatif untuk menambah kapasitas modal dan memberikan ruang lebih luas bagi ekspansi usaha. 

Bank ini pun optimistis dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, profitabilitas, dan ketahanan permodalan, dengan target peningkatan CAR ke kisaran 18% pada 2026.

Pandangan Pengamat Dan Tantangan Ke Depan

Pengamat perbankan Moch Amin Nurdin menilai bahwa kondisi permodalan perbankan saat ini memberikan ruang yang cukup luas untuk ekspansi. Menurutnya, bank memiliki peluang untuk memperkuat bisnis berbasis komisi maupun berinvestasi pada transformasi digital.

“Potensi ekspansi terbuka, khususnya pada sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat dan risiko yang terkelola, seperti pembiayaan rantai pasok, UMKM yang bankable, serta sektor-sektor yang didukung kebijakan pemerintah,” jelas Amin.

Meski demikian, Amin mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak hanya terletak pada ketersediaan modal. Kemampuan bank dalam menyeimbangkan pertumbuhan dengan kualitas aset menjadi faktor kunci. 

Hingga akhir tahun ini, bank diharapkan menjaga kualitas kredit agar pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai tidak membebani modal secara berlebihan.

Selain itu, pengelolaan pertumbuhan ATMR secara disiplin serta menjaga profitabilitas tetap penting, mengingat laba merupakan sumber utama penguatan modal internal. 

Dengan strategi yang tepat, perbankan diharapkan mampu menjaga ketahanan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index