CBI KCB

CBI KCB Perluas Akses Keuangan Bagi Pekerja Migran

CBI KCB Perluas Akses Keuangan Bagi Pekerja Migran
CBI KCB Perluas Akses Keuangan Bagi Pekerja Migran

JAKARTA - Mobilitas lintas negara yang makin tinggi membuat kebutuhan akses layanan keuangan ikut berubah.

 Pekerja migran dan diaspora sering menghadapi kendala administratif saat mencoba mengakses pembiayaan di negara tujuan, meski memiliki riwayat kredit yang baik di negara asal. Tantangan ini kerap berujung pada keterbatasan akses pinjaman, kartu kredit, hingga layanan remitansi yang aman.

 Menjawab kebutuhan tersebut, PT Credit Bureau Indonesia menjalin kemitraan strategis dengan Korea Credit Bureau untuk memperluas akses layanan keuangan lintas negara, terutama bagi pekerja migran dan diaspora Indonesia di Korea Selatan.

Direktur Utama CBI, Anton K. Adiwibowo, menyatakan bahwa kemitraan ini sejalan dengan upaya memperluas inklusi keuangan bagi segmen yang selama ini kurang terlayani, termasuk pekerja migran. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman terkait kolaborasi layanan informasi perkreditan. 

Melalui kolaborasi ini, warga Indonesia di Korea Selatan dapat memanfaatkan riwayat kredit dari CBI untuk berbagai kebutuhan finansial, seperti pengajuan pinjaman bank, kartu kredit, remitansi, hingga layanan keuangan lainnya.

 Sebaliknya, warga Korea yang tinggal di Indonesia dapat menggunakan data kredit dari KCB untuk mengakses layanan keuangan di dalam negeri.

Akses Kredit Lintas Negara Untuk Diaspora

Pemanfaatan riwayat kredit lintas negara dipandang sebagai solusi atas persoalan klasik diaspora yang kerap kesulitan memulai akses keuangan di negara baru.

 “Pemanfaatan riwayat kredit lintas negara diharapkan mendorong akses keuangan yang lebih inklusif, aman, dan berbasis data,” ujarnya. 

Selama ini, ketiadaan riwayat kredit lokal menjadi salah satu hambatan utama bagi pekerja migran dalam mengakses pembiayaan formal. Padahal, banyak dari mereka memiliki catatan kredit yang baik di negara asal, namun belum dapat dimanfaatkan di negara tujuan.

Dengan integrasi data kredit antarnegara, lembaga keuangan dapat melakukan penilaian risiko yang lebih komprehensif. Bagi pekerja migran, hal ini membuka peluang untuk mengakses produk keuangan formal secara lebih cepat dan adil. 

Selain mempermudah akses pembiayaan, mekanisme ini juga berpotensi meningkatkan literasi keuangan karena pengguna terdorong menjaga rekam jejak kreditnya lintas yurisdiksi.

Data Migrasi Dan Tantangan Akses Keuangan

Berdasarkan data Korean Immigration Services tahun 2025, terdapat lebih dari enam puluh ribu warga negara Indonesia yang belajar dan bekerja di Korea Selatan, menjadikan Indonesia kelompok warga asing terbesar keenam di negara tersebut. Di sisi lain, lebih dari 2026 warga Korea tercatat tinggal di Indonesia. Mobilitas dua arah ini memperlihatkan besarnya kebutuhan akan mekanisme pengakuan riwayat kredit lintas negara.

Ketiadaan riwayat kredit lokal kerap membuat diaspora mengandalkan layanan keuangan nonformal yang berisiko lebih tinggi dan berbiaya mahal. Dalam konteks ini, kolaborasi CBI dan KCB diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada jalur informal, sekaligus meningkatkan inklusi keuangan formal. 

Integrasi informasi kredit juga memberi kepastian bagi lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan secara lebih prudent, karena berbasis data yang terverifikasi.

Peran Informasi Kredit Dalam Inklusi

CEO KCB, Jongsup Hwang, menilai kemitraan ini sebagai langkah strategis untuk membangun jaringan informasi kredit terintegrasi di Asia. Menurutnya, akses terhadap data kredit yang andal berperan penting dalam membuka peluang finansial dan mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif di kawasan. 

Pernyataan ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas lembaga informasi kredit bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada stabilitas dan efisiensi sistem keuangan regional.

Dengan tersedianya data kredit yang terhubung lintas negara, proses penilaian kredit menjadi lebih akurat. Lembaga keuangan dapat menyalurkan pembiayaan dengan tingkat risiko yang terukur, sementara pengguna layanan memperoleh akses yang lebih adil. 

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memperluas basis nasabah perbankan formal, sekaligus memperkuat ekosistem pembiayaan yang inklusif.

Transformasi Digital Dorong Kolaborasi Regional

CBI menyebut kolaborasi ini juga menjawab meningkatnya kebutuhan lembaga keuangan terhadap informasi kredit real-time lintas negara, seiring penguatan infrastruktur dan transformasi digital sektor keuangan di kawasan regional. 

Digitalisasi memungkinkan pertukaran data berlangsung lebih cepat dan aman, sehingga lembaga keuangan dapat merespons kebutuhan nasabah lintas negara secara lebih efisien.

Penguatan infrastruktur digital juga memperluas potensi kolaborasi serupa di masa depan. Model kerja sama CBI dan KCB dapat menjadi rujukan bagi integrasi informasi kredit di kawasan Asia yang lebih luas. 

Dengan demikian, pekerja migran dan diaspora tidak lagi terhambat oleh batas yurisdiksi dalam mengakses layanan keuangan formal. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan menjadi fondasi penting bagi terbentuknya ekosistem keuangan regional yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index