JAKARTA - Pemulihan akses transportasi menjadi salah satu langkah penting setelah bencana melanda sejumlah wilayah di Indonesia.
Kerusakan jembatan dan infrastruktur penghubung kerap membuat masyarakat kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, mulai dari distribusi logistik hingga kegiatan ekonomi.
Dalam upaya mengatasi persoalan tersebut, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat melakukan percepatan pembangunan jembatan di berbagai daerah yang terdampak bencana maupun kondisi geografis yang menantang. Program ini bertujuan memulihkan mobilitas masyarakat sekaligus mempercepat proses pemulihan wilayah yang sempat terisolasi.
Dalam kurun waktu sekitar dua setengah bulan, TNI Angkatan Darat menyatakan berhasil menyelesaikan pembangunan ratusan jembatan di berbagai wilayah Indonesia. Infrastruktur tersebut dibangun untuk menggantikan jembatan yang rusak sekaligus membuka kembali jalur transportasi masyarakat.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Donny Pramono, menjelaskan bahwa total jembatan yang berhasil dibangun mencapai 218 unit yang tersebar di berbagai daerah.
“Dari total 218 ini, itu memang 80 persen adanya di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Di mana ada 77 jembatan Bailey, 59 jembatan Armco, dan 82 jembatan perintis atau jembatan gantung,” ungkap Donny.
Upaya Memulihkan Akses Transportasi Masyarakat
Pembangunan jembatan yang dilakukan TNI AD berawal dari upaya pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra pada akhir Desember 2025. Bencana yang terjadi hampir bersamaan di beberapa daerah menyebabkan kerusakan infrastruktur transportasi, termasuk jembatan yang menjadi penghubung utama antarwilayah.
Akibat kerusakan tersebut, aktivitas masyarakat sempat terganggu karena jalur transportasi terputus. Distribusi barang dan mobilitas warga menjadi lebih sulit sehingga diperlukan langkah cepat untuk memulihkan kondisi tersebut.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, satuan zeni TNI Angkatan Darat langsung turun ke lapangan untuk memperbaiki dan membangun kembali jembatan yang rusak.
Di Provinsi Aceh, TNI AD membangun 88 jembatan yang terdiri dari 40 jembatan Bailey, 34 jembatan Armco, dan 14 jembatan perintis atau jembatan gantung.
Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara terdapat 49 jembatan yang dibangun. Jumlah tersebut meliputi 24 jembatan Bailey, 15 jembatan Armco, dan 10 jembatan perintis atau gantung.
Adapun di Provinsi Sumatera Barat, TNI AD membangun 24 jembatan yang terdiri dari 11 jembatan Bailey, 10 jembatan Armco, dan 3 jembatan perintis atau gantung.
Selain ketiga provinsi tersebut, pembangunan jembatan juga dilakukan di berbagai daerah lain di Indonesia.
Sebaran Pembangunan Jembatan Di Berbagai Wilayah
Tidak hanya berfokus pada wilayah yang terdampak bencana di Sumatra, TNI AD juga membangun sejumlah jembatan di provinsi lain yang membutuhkan dukungan infrastruktur penghubung. Dari total 218 jembatan yang dibangun, terdapat 57 jembatan tambahan yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.
Dua di antaranya merupakan jembatan Bailey yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Sementara itu, sebanyak 55 jembatan perintis gantung dibangun di berbagai daerah lain.
Jembatan perintis tersebut tersebar di beberapa provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Lampung, Riau, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, serta Sulawesi Barat.
Pembangunan jembatan di berbagai wilayah tersebut menunjukkan upaya TNI AD dalam membantu memperkuat konektivitas daerah, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur.
Donny menegaskan bahwa seluruh pembangunan jembatan tersebut benar-benar terealisasi di lapangan.
“Ini semuanya ada, nyata. Kalau misalnya dibilang AI (Artificial Intelligence), silakan saja, cek,” tegas dia.
Keterlibatan Satuan Zeni Dari Berbagai Daerah
Proses pembangunan jembatan yang berlangsung relatif cepat tidak lepas dari keterlibatan berbagai satuan zeni TNI Angkatan Darat dari sejumlah wilayah.
Pada tahap awal, satuan zeni yang berada di wilayah terdampak langsung bergerak untuk melakukan perbaikan infrastruktur yang rusak. Tiga komando daerah militer turut terlibat dalam proses tersebut, yakni Kodam Iskandar Muda, Kodam I Bukit Barisan, serta Kodam XX Tuanku Imam Bonjol.
Namun, luasnya kerusakan infrastruktur membuat TNI AD kemudian mendatangkan tambahan personel dari berbagai satuan zeni di daerah lain.
Langkah ini dilakukan agar proses pembangunan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.
“Kadang-kadang ada yang bertanya kok kenapa begitu cepat dalam waktu 2,5 bulan? Karena kita kerjanya paralel. Jadi bukan ke sini, geser lagi, tidak,” ujar Donny.
“Makanya seperti tidak mungkin, tapi nyatanya mungkin. Jembatan ini terbangun semuanya, secara fisiknya ada,” tambah dia.
Kerja Siang Malam Demi Pemulihan Wilayah
Selain melibatkan banyak personel, percepatan pembangunan jembatan juga dilakukan melalui sistem kerja yang intensif. Para prajurit bekerja siang dan malam untuk mengejar target penyelesaian pembangunan infrastruktur tersebut.
Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat di wilayah terdampak dapat segera kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Dengan selesainya pembangunan jembatan, akses transportasi yang sebelumnya terputus kini dapat kembali digunakan oleh masyarakat.
Hal ini diharapkan dapat membantu memulihkan mobilitas warga sekaligus mendorong kembali aktivitas ekonomi di daerah yang sempat terisolasi akibat bencana.
Pemulihan akses transportasi juga menjadi faktor penting dalam mendukung distribusi logistik, pelayanan kesehatan, serta berbagai kegiatan sosial masyarakat di daerah tersebut.
Melalui pembangunan ratusan jembatan dalam waktu relatif singkat ini, TNI Angkatan Darat berharap konektivitas antarwilayah dapat kembali normal sehingga masyarakat dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih mudah.