Polri Diminta DPR Bongkar Otak Pengeroyokan Warga Pejompongan

Senin, 31 Agustus 2026 | 07:17:32 WIB
Polri diminta Komisi III DPR mengusut tuntas jaringan di balik pengeroyokan warga Pejompongan hingga tewas.

BERITASELA.ID — Anggota Komisi III DPR RI Abdullah meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) membongkar jaringan di balik kematian warga Pejompongan berinisial BS (59) yang tewas saat kericuhan di sekitar Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Kamis (27/8) malam. Politikus yang akrab disapa Abduh itu menegaskan penyidikan harus menyentuh aktor intelektual, bukan sekadar eksekutor di lapangan.

"Informasi itu yang harus dibongkar oleh polisi. Siapa mereka, dari mana mereka datang, siapa yang menggerakkan, apa tujuannya, dan apakah ada yang memberikan perintah? Jangan berhenti hanya pada orang yang melakukan kekerasan di lapangan," ujarnya di Jakarta, Senin.

Tuntutan Transparansi agar Publik Tak Berspekulasi

Legislator bidang penegakan hukum itu menilai pengungkapan kasus secara terbuka menjadi kunci menjaga kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Menurut dia, penanganan keamanan demonstrasi merupakan kewenangan Polri, sehingga akuntabilitas proses penyidikan mutlak diperlukan.

"Semua yang terlibat dalam pengeroyokan ini berpotensi dijerat pasal pembunuhan berencana, tetapi tentu harus dibuktikan terlebih dahulu apakah memang terdapat unsur perencanaan untuk menghilangkan nyawa korban," kata Abduh menegaskan.

Ia juga menekankan bahwa tidak ada toleransi bagi kelompok mana pun yang terbukti terlibat. "Tangkap semua massa tak dikenal yang terlibat dan proses sesuai hukum. Kalau memang terbukti ada keterlibatan organisasi, tentu harus ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan," tegasnya.

Kronologi Malam Tragis di Pejompongan

BS yang sehari-hari berdagang cermin memutuskan menutup usahanya lebih awal saat melihat massa mulai berdatangan. Istri korban, Sudarsi (56), menuturkan suaminya keluar rumah setelah menilai situasi mulai kondusif, namun tidak kunjung kembali hingga larut malam.

Keluarga baru mendapat kepastian pada Jumat (28/8) dini hari setelah sebuah video beredar dan memperlihatkan sosok yang dikenali sebagai BS. "Kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas posisi dia, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita enggak tahu," ungkap Sudarsi.

Informasi yang dihimpun keluarga, BS sempat dibawa ke Rumah Polri. Sudarsi menduga suaminya meninggal di lokasi kejadian sebelum dievakuasi. Jenazah BS dimakamkan pada Jumat (28/8) di kawasan Kemanggisan Pulo, Jakarta Barat.

Negara Jangan Dianggap Kehilangan Kewibawaan

Abduh mengingatkan aparat keamanan agar kasus ini tidak membuat publik menilai negara gagal menjaga ketertiban. "Jangan sampai negara dan pemerintah dinilai tidak mampu menjaga ketertiban dan keamanan hingga tugas pokok dan fungsinya seolah-olah digantikan oleh orang-orang yang melakukan kekerasan dengan cara preman," imbuhnya.

Desakan penyidikan menyeluruh ini muncul di tengah sorotan publik terhadap penanganan aksi unjuk rasa yang berujung maut. Polri kini dihadapkan pada tuntutan ganda: mengungkap pelaku lapangan sekaligus memastikan tidak ada ruang gelap dalam proses hukum yang berjalan.

Tags

Terkini